Boleh minta link portofolio atau website-nya?

Bisa jadi pertanyaan itu telah umum dilontarkan oleh kawan bicara kita. Entah itu teman yang baru kita kenal, calon klien yang tertarik dengan jasa kita, atau manajer bagian personalia yang ingin menjadikan kita pegawai lepasan di kantornya. Mereka ingin melihat presensi online kita.

Era digital membuat hampir setiap orang dituntut untuk memiliki presensi online. Itu berlaku bagi mahasiswa, karyawan perusahaan, seniman, politisi, pebisnis, bahkan pencari kerja sekali pun. Ya, presensi online bukan menjadi milik sebuah merek saja.

Profesi-profesi baru—dan hit—yang terlahir dari santernya digitalisasi pun kini sudah akrab di benak kita: YouTuber, selebgram, CEO dari online startup, dsb. Mereka harus memegang presensi online yang mumpuni, sebab kredibilitas mereka di dunia digital patut terverifikasi.

Selebgram, profesi yang tak bisa jauh-jauh dari presensi online. | Unsplash/vikasvikas

Pentingnya eksistensi di ranah maya bukan karena alasan sepele. Tanpa presensi online, umumnya orang akan menemui kerumitan ketika harus berurusan dengan profesionalisme. Keberadaan seseorang secara virtual telah dianggap mewakili profil pribadi: pendidikan, spesialisasi, pengalaman, penghargaan, dll.

Lantaran prasyarat itu, banyak orang mesti membentuk citra personal, atau bisa kita sebut branding diri. Menata imaji standar kini lazim dilakukan seseorang demi reputasi yang bersesuaian dengan preferensi target yang ia tuju. Sekali lagi, hal itu bukan cuma dilakukan oleh sebuah merek.

Mahasiswa perlu menggambarkan bahwa ia memiliki nilai tawar agar kelak mampu merebut perhatian perusahaan. Politisi wajib memvisualkan dirinya sebagai tokoh yang piawai jika ingin tetap relevan di masyarakat. Influencer harus merepresentasikan keunikannya secara menonjol untuk menyedot audiens setia dan memikat merek ternama.

Begitulah branding diri bekerja.

Michelle Obama, dengan branding diri, berhasil menjadi salah satu ikon feminisme. | Unsplash/thefoolies

Website Sebagai Pendukung Branding Diri

Kita tentu sudah tak aneh dengan website. Ketika melakukan pencarian di Google, kita pasti akan diarahkan ke sebuah website. Saat hendak membeli suatu barang atau meninjau suatu hal, kita umumnya akan lebih dulu berkunjung ke sebuah website.

Website menjadi medium yang patut dimiliki seseorang yang profesionalismenya melibatkan campur tangan digital dan ingin melakukan branding diri di ranah maya. Seniman yang wira-wiri memopulerkan karyanya bisa dipastikan memiliki website. Begitu juga dengan pekerja yang serius menjalani kariernya: jelas ia mempunyai website.

Kehadiran website yang menampilkan profil personal adalah esensial bagi seseorang. Profesionalisme, boleh dibilang, sekilas dapat diukur. Branding diri pun menjadi lebih komprehensif.

Nah, melalui uraian di bawah ini, bolehlah kita menengok bersama bagaimana website berpengaruh terhadap branding diri.

Memoles Kesan Pertama

Unsplash/dadaben_

Kesan pertama adalah segalanya. Begitu nama kita diketikkan pada Google oleh seseorang, yang kita harapkan adalah muncul kesan pertama yang baik. Itu bisa kita akali dengan memiliki website yang tokcer: clean, bersesuaian dengan pribadi positif yang ingin kita gambarkan, dan menampilkan profil personal secara menarik.

Menguatkan Reputasi

Unsplash/mrsunflower94

Dengan mempunyai website, kita berupaya meyakinkan kredibilitas kita kepada khalayak. Kehadiran website membuat nama kita relevan dan spesialisasi yang kita tawarkan lebih tepercaya. Seperti halnya sebuah merek, ia akan memperoleh nilai baik tersendiri dari audiens jika memiliki website resmi.

Membangun Relasi Kuat

Unsplash/priscilladupreez

Website ibarat “rumah” online kita. Kehadiran pengunjung yang tak terduga dapat menjadi peluang bagi kita untuk menjalin koneksi seluas-luasnya. Kemungkinannya pun beragam: bisa saja kita akan mendapat rekan dalam satu bidang atau bertemu seseorang yang bersedia memakai pelayanan kita.

Membuka Peluang Kerja

Unsplash/priscilladupreez

Manajer bagian personalia atau human resources department zaman kini tak berpaku pada lembaran atau surel curriculum vitae (CV), tetapi bergerak mencari informasi tentang pelamar di mesin pencarian. Jika kita adalah pelamar dengan website yang apik, ini adalah kabar baik: kesempatan untuk dilirik cepat oleh perusahaan cenderung luas.

Menjadi Refleksi Diri

Unsplash/danutzuzu

Website berfungsi selayaknya CV dan portofolio online kita. Dengan melihat laman, kita mampu berkaca seperti apa citra kita selama ini terlihat dan sebanyak apa kapabilitas kita tertuang. Dengan itu, kita bisa mengukur, memperbaiki, atau melengkapi diri demi aktualisasi yang sehat.

Sebelum tulisan ini ditutup, kita tengok lagi pertanyaan ini: perlukah adanya website dalam rangka melakukan branding diri? Pada era digital seperti ini, sudah tentu. [*]