Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Penggalan lirik dari tembang bertajuk Kolam Susu yang didendangkan oleh Koes Plus itu sungguh mencerminkan kealaman Indonesia. Dalam tembang itu, negeri kita disebut bagai indraloka. Jika hidup pada abad lampau, kita tak usah repot menjadi pemburu serabutan yang lekas kehabisan tangkapan atau berpayah-payah menjadi penjelajah yang mengincar rempah.

Tak berlebihan jika Koes Plus menggambarkan demikian. Biodiversitas atau keanekaragaman hayati kepunyaan bangsa ini memang menyodorkan bermacam rupa satwa dan tumbuhan. Apa-apa telah tersuguh di depan kita, tanpa perlu kita letih memperolehnya.

Saking masyhurnya, kekayaan ini mengundang kekaguman—mungkin juga kecemburuan—dari luar. Akibat kelebihan yang meruah ini, pada masa silam orang-orang Barat berbondong-bondong mendarat di tanah kita. Karunia Tuhan melingsir bagi Indonesia.

Hasil pertanian padi menjadi salah satu tonggak perekonomian Indonesia. | Pixabay/HongTuan_photography
Selain menghasilkan ikan, cumi-cumi, kepiting, udang, tiram, dan kerang, laut Indonesia pun mendatangkan garam. | Pixabay/Quangpraha

Indonesia: Bentala Megadiversitas

Pusat Pengawasan Konservasi Dunia menggolongkan Indonesia sebagai salah satu negara yang menyandang julukan “negara megadiversitas”, lantaran keanekaragaman hayatinya yang berlimpah. World Wildlife Fund Indonesia mengungkapkan khazanah spesies yang dimiliki oleh Indonesia—dari seluruh perbendaharaan hayati dunia—meliputi 10% tanaman berbunga, 12% mamalia, 16% reptil dan amfibi, 17% burung, dan 25% ikan.

Sebagaimana kita insafi, Indonesia dilintasi oleh garis khatulistiwa yang memaruh bumi menjadi belahan utara dan selatan. Pemisahan itu menjadikan Indonesia beriklim tropis, yang kemudian menjadi zona nyaman bagi aneka satwa dan tumbuhan untuk hidup dan membiak. Cahaya matahari yang menyuar dan curah hujan yang membanjur begitu paripurna bagi setiap denyut kehidupan.

Paparan matahari yang memadai penting untuk memelihara kehidupan. | Pixabay/MoreToTheShell
Seperti pendar matahari, tumpahan hujan yang layak penting untuk menghidupi. | Pixabay/Alexas_Fotos

Indonesia tergolek manis di antara dua benua, Asia dan Australia. Letak yang apik itu menambah nilai kepelbagaian satwa dan tumbuhan, yang karakteristiknya terbagi menjadi tiga: oriental, peralihan, dan australia. Ketiganya melengkapi koleksi hayati ibu pertiwi.

Biodiversitas memberi kita berkat: kita tak kekurangan pangan, baik itu hewani atau nabati. Di sungai kita mendapat gurame, di halaman kita beroleh sawi, dan di rimba kita menjumpai murbei dan rusa. Perut tak akan kelaparan, gizi tak bakal kurang.

Begitu juga dengan pangan yang dikonsumsi untuk kepentingan kesehatan: kita tak mengalami kesulitan mencarinya. Biodiversitas menyediakan penawar alami untuk memulihkan atau mencegah kita dari rasa sakit … nyaris apa saja. Kita bisa kapan saja membuat apotek hidup di pelataran rumah.

Pangan Medis dan Prospeknya yang Cemerlang

Leluhur kita dikenal piawai meramu tetumbuhan menjadi jamu. Naskah-naskah kuno mencantumkan obat-obatan yang lazim digunakan masyarakat pada era itu; relief-relief candi menceritakan adegan penyembuhan oleh para tabib. Historia merangkum bagaimana Vereenigde Oostindische Campaignie melancarkan kajian botani di Hindia Timur demi mengetahui tetumbuhan berkhasiat yang laku di pasaran—yang kelak akan menggemukkan pundi-pundi milik kongsi.

Pangan medis tak kehilangan momen sampai kini. Masih umum jika ada ayah yang serentak memetik sirih begitu melihat darah mengucur dari hidung anaknya. Belum punah pula di kalangan perempuan kebiasaan meminum racikan beras kencur selepas melahirkan.

Teh herbal dari campuran sage dan adas yang memiliki beragam kebaikan bagi tubuh. | Pixabay/congerdesign

Seturut lansiran Beritagar, penelitian oleh pakar ekofisiologi tanaman obat dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sandra Arifin Aziz, mendedahkan ada sebanyak 9.600 dari 90.000 lebih tumbuhan di Indonesia yang berpotensi dijadikan pangan medis. Dikutip dari laman Universitas Gajah Mada (UGM), salah seorang profesor dari Departemen Kimia Farmasi, Prof. Dr. Ratna Asmah Susidarti, M.S., Spt., menerangkan saat ini Indonesia baru memanfaatkan 200 jenis tumbuhan untuk bahan baku obat.

Dalam pergelaran Pameran Industri Kosmetik dan Obat Tradisional pada Rabu, 3 Juli lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan eskalasi pada industri farmasi, obat kimia, dan obat tradisional mencapai 8,12% pada triwulan pertama tahun 2019. Nilai Produk Domestik Bruto yang dicapai sebesar Rp2,19 triliun. Itu adalah catatan yang baik, menilik bahwa peningkatan telah terjadi dalam lima tahun terakhir.

Program kesehatan oleh pemerintah seperti Kartu Indonesia Sehat serta pasar obat generik menyumbang kontribusi bagi progres tersebut. Pendapatan dan gaya hidup masyarakat kelas menengah juga menyokong penambahan permintaan obat. Embaran dari Kontan mencatat anggaran kesehatan yang digelontorkan oleh pemerintah dinaikkan sebesar 10% dari tahun lalu, menghadirkan total bujet sebanyak Rp123,1 triliun.

Pasar internasional boleh jadi akan pula menguntungkan industri farmasi di Indonesia, khususnya pada sektor obat tradisional. Organisasi Kesehatan Dunia mengestimasi pada tahun 2050 akan ada sebanyak $50 miliar kebutuhan obat herbal global, berdasarkan nukilan dari Balipost. Jika kemudian dunia bakal bergantung pada pangan medis asal Indonesia, maka itulah kesempatan akbar.

Kendatipun industri farmasi menjanjikan peluang, ada yang patut menjadi perenungan: 90% bahan baku obat-obatan kini masih didapat lewat impor. Keterangan yang dikutip oleh Katadata itu menampar keras pipi kita. Ketika kita tahu Indonesia adalah rumah bagi ribuan tumbuhan dengan potensi manfaat kesehatan, fakta di atas mengingatkan bahwa kita harus berupaya lebih gigih dan cermat.

Biodiversitas mengagihkan gerbang bagi Indonesia untuk memperoleh pangan medis berkualitas. Itu tentu mesti didukung dengan usaha mengelaborasi potensi yang tersebar di alam serta menjaganya dengan semangat keberlanjutan. Sesudah ikhtiar itu dimakbulkan, pemenuhan kesehatan, bahkan kemantapan ekonomi, bisa kita capai.

Kiprah Indonesia dalam Hal Konservasi Diakui

Belum lama ini, tepatnya pada November tahun 2018, Indonesia diganjar Gold Award untuk kategori New National Clearing House Mechanism. Seperti dikabarkan oleh Good News from Indonesia, penghargaan tertinggi di bidang konservasi ini diberikan pada perhelatan Clearing House Mechanism Award Ceremony yang dilangsungkan di Sharm El Sheikh, Mesir.

Indonesia dipercaya telah melakukan langkah nyata dalam mengadakan pengelolaan biodiversitas. Itu terlihat lewat ratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa perihal keanekaragaman hayati oleh Indonesia yang tertuang pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1994. Balai Kliring Keanekaragaman Hayati pun dibentuk sebagai instrumen pemantauan, yang diarahkan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

Capaian Indonesia dalam konservasi biodiversitas dinilai memuaskan oleh publik internasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuturkan Indonesia meraih 17%, melampaui target Aichi Biodiversity Targets yang mematok 11%. Berita bahagia yang disampaikan oleh Antara itu menyuratkan upaya keras Indonesia dalam merespons isu lingkungan, yang berkait dengan keberadaan keanekaragaman hayati yang kini banyak menemui ancaman.

Delegasi Indonesia kala menerima penghargaan Gold Award atas capaian di bidang konservasi biodiversitas. | Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Untuk Pangan Medis yang Berkemajuan, Apa yang Harus Terus Ditunaikan?

Kiprah semua pihak yang telah melindungi keanekaragaman hayati negeri sekaligus membawa harum nama bangsa hingga ke penjuru dunia layak dibanggakan. Namun, kita tak boleh lantas puas begitu saja. Daya dan upaya lainnya tak boleh luput dari perhatian.

Dalam ihwal pengembangan pangan medis, ada sejumlah ikhtiar yang bisa dijalankan bersama. Tak berhenti pada pemeliharaan biodiversitas, kerja keilmuan tentu dituntut untuk banyak memegang kendali.

Litbang oleh Lembaga Riset

Pixabay/jarmoluk

Kegiatan ilmiah perlu giat dilakukan demi pemberdayaan pangan medis. Pengelolaan sumber daya manusia, dana investasi iptek, kebijakan, dan teknologi yang ideal dibutuhkan untuk menggenjot gairah penelitian. Tak cuma penelitian yang tinggi secara kuantitas, tetapi juga kualitas.

Beberapa usaha telah dilancarkan oleh lembaga riset, di antaranya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang mendirikan fasilitas penelitian obat tradisional untuk menjawab tantangan kemandirian bahan baku obat-obatan nasional dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) yang berhasil menciptakan 13 ramuan jamu saintifik sepanjang tahun 2010 hingga 2018.

Kajian di Ranah Akademis

Pixabay/crystal710

Sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, perguruan tinggi urun partisipasi dalam meningkatkan animo kalangan akademisi terhadap isu pangan medis. Lewat seminar, penelitian, karangan ilmiah, dan produk akademis lainnya diharapkan pemberdayaan dapat disiasati.

UGM dan delapan perguruan tinggi sejawat telah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) untuk memetakan DNA fingerprint 3.500 tumbuhan obat di Indonesia. Program studi (prodi) yang berkait dengan ilmu pengobatan tradisional pun dibuka, seperti Prodi Magister Herbal Universitas Indonesia, Prodi Diploma Supervisor Jaminan Mutu Obat Tradisional dan Farmasi Bahan Alam IPB, dan Prodi Diploma Pengobatan Tradisional Universitas Airlangga.

Pendirian dan Pengelolaan Kebun Raya

Pixabay/wsk4715

Fungsi kebun raya sebagai medium konservasi, penelitian, dan pendidikan dibutuhkan agar masyarakat tergerak untuk berperan dalam pemberdayaan pangan medis. Kebun raya dapat diperkenalkan sebagai lokasi pariwisata kepada khalayak, tanpa mengabaikan substansinya sebagai pusat pelestarian.

Seperti dituturkan oleh Beritasatu, Yayasan Kebun Raya Indonesia telah menginisiasi gagasan pembangunan Kebun Raya Tanaman Obat Indonesia pertama di level nasional sebagai bagian dari gerakan Jaga Bhumi. Beberapa kebun yang berisi tetumbuhan obat pun sudah dikelola, antara lain Kebun Raya Sriwijaya di Palembang oleh pemerintah daerah dan Kebun Tanaman Obat di Citeureup oleh Badan Litbangkes.

Kebijakan Tata Kelola Hutan

Pixabay/schwoaze

Tak dapat dimungkiri bahwa tetumbuhan potensial yang layak dijadikan pangan medis banyak hidup liar di alam. Hutan adalah salah satu tempat ternikmat bagi mereka untuk berkembang. Celakanya, kini hutan tengah getol digempur risiko dari maraknya alih fungsi yang tak bertanggung jawab.

Ketegasan pemangku kebijakan didambakan agar tetumbuhan obat tak kehilangan penaung. KLHK tak tinggal diam. Greeners mengabarkan KLHK telah melahirkan Peraturan Menteri LHK No. P96/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2018 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan yang Dapat Dikonversi. Hutan yang dilepas hanya hutan yang berstatus tak produktif sehingga deforestasi mampu dibendung dan keanekaragaman hayati di dalamnya terlindung.

Budidaya Mandiri dan Berkelanjutan

Pixabay/Free-Photos

Lazim bagi masyarakat Indonesia untuk menanami pekarangan rumah atau lahan pribadi dengan tetumbuhan obat. Ya, istilah “tanaman obat keluarga” ada di tengah-tengah kita. Kebiasaan baik ini tak cuma menghadirkan asas kemandirian dalam pengobatan dan menyumbangkan upaya konservasi, tetapi juga menyibak kesempatan terciptanya usaha kecil atau menegah.

Taman Sringanis di Bogor adalah salah satu lokasi penanaman tetumbuhan obat secara mandiri oleh satu keluarga. Tak kurang dari 450 jenis tumbuhan obat dibudidayakan dan bermacam produk herbal diproduksi. Pemiliknya pun rutin melakukan edukasi mengenai pendayagunaan obat tradisional.

Perusahaan Farmasi yang Merangkul

Pixabay/TeroVesalainen

Industri farmasi Indonesia sejauh ini memiliki rapor menggembirakan: pertumbuhannya tercepat di Asia, pangsa pasarnya terbesar di Asia Tenggara, serta perusahaan lokalnya mendominasi pangsa pasar nasional. Perusahaan farmasi, jika bersedia saling bergandengan atau bertalian dengan lembaga riset, perguruan tinggi, atau yayasan konservasi biodiversitas, akan turut serta menunjang pemberdayaan pangan medis seraya mengukuhkan keunggulannya di dalam dan luar negeri.

Deltomed dan Kimia Farma diberitakan oleh Swa pernah berkolaborasi untuk melantaskan empat fungsi, demi mengejawantahkan prinsip kemandirian bahan baku obat-obatan nasional: budidaya tetumbuhan obat, penelitian, produksi, serta penjualan produk dan jasa. Sementara itu, Sido Muncul kerap menggelar seminar herbal dan mengadakan riset obat-obatan alami bersama berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Rasa syukur dan bangga atas kekayaan hayati negeri ini patut dibarengi keringat dari usaha merawat. Memelihara biodiversitas merupakan darma kita bersama. Tak ada yang punya porsi lebih atau kurang: semua bertanggung jawab mengopeni pemberian yang telah diterima.

Nah, untuk turut merayakan Hari Keanekaragaman Hayati 2019, kita bisa mulai dengan mengiringi kehidupan satu tumbuhan—tak harus tumbuhan obat, ambillah bibit yang kita suka. Tanam ia sepenuh hati dan berusahalah mengasuhnya dengan baik saban hari. Bukan cuma menyenangkan, darinya kita pun dapat belajar menghargai setiap denyut yang ada di muka bumi ini. [*]