Aku adalah tipe orang yang amat dalam-ruang. Sebagai penulis lepas, aku kerap berkutat di kamar: mengetik tulisan berjam-jam di laptop sambil mengawasi putra mungilku yang kini sedang jago berguling di atas kasur. Aku cenderung tak tahan hawa gerah, maka air conditioner (AC) acap kunyalakan.

Aku juga gemar membaca buku—kala akhirnya ada waktu senggang, yang biasanya pada malam hari, pasti bakal kuhampiri buku yang belum kunjung kuselesaikan. Sebab harus terus terhubung dengan internet, tentu saja aku sulit lepas dari ponsel pintarku. Meski tak doyan menonton TV, menunaikan maraton film lewat laptop bagiku mengasyikkan.

Sayang, kebiasaan harianku itu berisiko bagi kesehatan. Yang dirugikan salah satunya, tak lain dan tak bukan, adalah mataku yang jadi kering. Ya, mata juga bisa kering—bukan cuma sawah!

Kalau mata kering sudah menyerang, aktivitasku lantas jadi terhalang. Tenggat jadi seperti neraka. Waktu bersama putraku jadi tak semenyenangkan biasa. Kegiatan me time malah jadi nelangsa.

Tentu saja itu perkara besar buatku. Tak cuma peranku sebagai penulis lepas yang terkendala, tetapi juga kapasitasku sebagai ibu. Itulah kenapa problem mata kering tak bisa kutoleransi.

Apa Itu Mata Kering?

Ibarat mesin mobil, mata pun perlu dilumas, yaitu dengan air mata yang diproduksi secara alamiah. Seturut embaran yang diuraikan oleh Alodokter, mata kering terjadi karena ia kekurangan air mata yang bertugas menyingkirkan benda asing. Kondisi tak nyaman pada mata yang juga disebut keratoconjunctivitis sicca ini membuat permukaan mata kesat, sehingga mata pun terlihat layu.

Mata kering tak boleh disepelekan. Peradangan bisa terjadi saat mata kering terlampau parah. Kalau bukan kornea yang terserang jaringan parut, bakterilah yang mengontaminasi. Mengerikan!

Matamu tampak kurang lebih begini? Awas, itu mata kering! | Freepik/sri_sakorn42

National Library of Medicine National Institute of Health, seperti diungkapkan oleh Beritagar, mencatat ada 60 juta orang di seluruh dunia yang menderita mata kering. Di Indonesia, tepatnya pada tahun 2017, kasus mata kering diketahui menjangkau angka 30,6 persen dari jumlah penduduk. Gaya hidup yang sembrono dan keadaan lingkungan yang tak bersahabat merupakan faktor utama timbulnya sindrom ini.

Jadi, apa saja yang bisa bikin mata kering?

Kamu yang doyan ber-Netflix berjam-jam harus waspada. Begitu juga kamu yang profesinya tak bisa jauh-jauh dari peranti digital—terutama admin media sosial! Kutu buku, pengendara yang lama di jalan, manusia dalam-ruang sepertiku …

Duh, daftarnya bisa panjang. Intinya, kita semua berisiko mengalami mata kering. Tak ada yang terkecuali.

Sepet, Pegel, Perih: Tiga Gejala Mata Kering yang Bikin Merintih

Lalu, bagaimana kita bisa tahu kalau mata kita mengalami kekeringan? Setidaknya ada tiga gejala, dan semua pernah kurasakan. Simak penjelasan di bawah sambil cek baik-baik matamu.

Berkabar dengan suami lewat WhatsApp, mengecek pembaruan tentang kegiatan kepenulisan di internet, dan mengintip keramaian media sosial. Semuanya mengharuskanku menatap layar ponsel dalam waktu tak sebentar. Ujung-ujungnya, mata jadi macam salak: sepet!

Kelopak mata yang terasa berat merupakan tanda mata sepet. Mengucek bisa jadi gerakan yang spontan, tetapi CNN membocorkan mudarat yang ditimbulkan apabila itu jadi kebiasaan: infeksi konjungtiva, kornea tipis, miopia yang memburuk, atau lingkaran hitam di bawah mata.

Terlalu lama berada di depan laptop tak cuma bikin punggung, pundak, atau leherku pegel. Mataku juga! Karena makananku sehari-hari adalah menulis, aku sukar luput dari bencana satu ini.

Tirto menyampaikan ada tiga otot pada mata yang bisa mengalami kelelahan. Otot eksternal yang letih membuat mata berdenyut. Sementara itu, otot siliaris yang capek membuat pandangan tak fokus. Nah, kalau otot iris kepayahan, mata mudah silau terhadap cahaya pada malam hari.

AC yang lama menyala menjadikan udara di dalam ruangan kering bak rekening pada akhir bulan. Akibatnya, mata perih seperti diperas. Kalau sudah begini, aku terpaksa harus menghentikan aktivitasku seketika.

Udara kering membuat air mata menguap lebih cepat. Karena produksi air mata berkurang, masuknya benda asing seperti debu atau sisa riasan mata mudah membuat mata iritasi. Belum lagi bakteri yang jadi gampang menyebar. Sensasi gatal serta warna merah pada mata pun muncul.

Pernah mengalami salah satu dari gejala di atas juga? Tak salah lagi, kamu terserang mata kering! Namun, jangan keburu panik karena pasti ada solusi.

Insto Dry Eyes: Agar Mata Kembali Segar

Merek obat tetes mata satu ini pasti sudah tak asing bagimu. Ia telah lebih dari 20 tahun berada di tengah masyarakat Indonesia, dan kini tergabung dalam salah satu perusahaan farmasi kenamaan negeri, Combiphar. Memperolehnya tak susah: di rak apotek atau minimarket, ia terlihat dengan mudah.

Itu dia: Insto Dry Eyes! | Dokumentasi Pribadi
Senjata darurat saat mata kering melanda. | Dokumentasi Pribadi

Aku termasuk orang yang tak serampangan menggunakan obat nonresep. Insto Dry Eyes kupilih melalui beberapa kriteria. Akhirnya, aku sepakat bahwa obat tetes mata ini patut jadi andalan.

1. Praktis

Aku perlu Insto Dry Eyes ada kapan pun di ruang kerja. Meletakkannya di sudut meja atau dalam laci adalah keharusan. Membawa Insto Dry Eyes buat berjaga-jaga saat berpresentasi di luar bersama klien juga perlu. Karenanya, aku tak lupa membawanya serta di dalam tas, tempat alat tulis, atau saku.

Insto Dry Eyes hadir dalam kemasan 7,5 ml yang praktis untuk disimpan dan digenggam. Si Mungil ini amat fungsional bagi kita yang bermobilitas tinggi dan rentan akan mata kering. Jadi, kapan saja dan di mana saja kita butuh, Insto Dry Eyes senantiasa sedia—selama kita bukan pelupa, ya!

2. Bekerja Efektif

Larutan isotonik steril dalam Insto Dry Eyes mengandung hidroksi propil metil selulosa sebanyak 3,0 mg dan benzalkonium klorida sebanyak 0,1 mg. Bahan aktif ini ampuh bekerja sebagai pelumas saat kita kekurangan air mata. Fungsinya sama: menyegarkan mata dalam sekejap.

Mengucek mata kering tak pernah lagi kulakukan. Selain tak membantu, mengucek mata malah membuat mata semakin bermasalah. Insto Dry Eyes berbeda: begitu diteteskan, sensasi segarnya lekas terasa sehingga aku bisa segera kembali beraktivitas.

3. Merek Nomor Satu

Obat tetes mata Insto merupakan market leader di Indonesia, dengan > 45% share; 100% brand awareness; dan 85% top of mind, seperti dinukil dari laman Superbrands. Itu meyakinkanku bahwa Insto Dry Eyes adalah produk yang valid. Terlebih, sejumlah penghargaan prestisius telah disabet: Top Brand Award 2014–2017; Superbrands Grand Award 2015; Social Media Award 2015; Indonesia Digital Popular Brand Award 2018; dan Indonesia WOW Brand 2014, 2015, dan 2019.

Karena telah lama dipercaya oleh masyarakat luas, aku pun tak ragu menggunakan Insto Dry Eyes. Sudah umum bagi seorang konsumen untuk memilih produk berdasarkan testimoni positif dari konsumen lainnya. Untuk kasusku pun demikian.

4. Higienis

Bahan aktif yang terdapat dalam larutan isotonik steril Insto Dry Eyes tak cuma mujarab menyegarkan mata, tetapi juga membunuh bakteri di dalamnya. Bukan hanya mata segar yang didapat, aku pun jadi beroleh mata yang bersih dan sehat. Dobel manfaatnya, bukan?

Insto Dry Eyes juga dilengkapi dengan segel rapat yang memastikannya terlindung senantiasa. Itulah kenapa saat dibuka pertama kali, ada bunyi “krek” yang terdengar. Jadi, Insto Dry Eyes aman digunakan selama ia belum melewati tanggal kedaluwarsa yang tertera di kemasan.

Mata Segar, Aktivitas Lancar

Berkat Insto Dry Eyes, kini mata kering yang kualami bisa teratasi dengan mudah dan cepat. Aku bisa beraktivitas kembali, tanpa hambatan yang berarti. Tenggat bukan masalah, mengasuh putraku tetap menyenangkan, dan waktu me time jadi maksimal.

Insto Dry Eyes selalu tersedia di atas meja kerjaku. | Dokumentasi Pribadi

Namun, jangan tunggu sampai mata kering. Cegahlah dengan mengatur pola makan dan menerapkan kebiasaan baik. Bagaimanapun mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Aku pun kini lebih banyak mengonsumsi makanan bervitamin A, C, dan E yang menyehatkan mata. Meminum air putih 8–10 gelas per hari juga kubiasakan demi memenuhi kebutuhan cairan, salah satunya untuk mata.

Aku pun tak lagi memaksakan mata untuk bekerja tanpa jeda. Begitu mata lelah sudah terasa, aku lantas beristirahat beberapa menit terlebih dahulu. Tak lupa juga kukedipkan mata secara berkala, agar produksi air mata memadai.

Di mana pun, jangan sampai Insto Dry Eyes tertinggal sebab mata kering bisa timbul kapan saja. Pastikan agar matamu selalu segar dan beraktivitaslah dengan nyaman tanpa memforsir diri. Kesehatanmu lebih penting dari apa pun.

Dengan Insto Dry Eyes, mari ramai-ramai kita teriakkan: “Bye Mata Kering!” [*]