Aku ingin berbagi secuil cerita. Sekadar berbagi yang remeh-remeh saja. Begini, kalau kausudi membaca.

Ketika itu aku masih mencecap bangku kuliah, entah di semester berapa. Terlintas dalam benakku gagasan memiliki blog pribadi. Tiada yang mengilhami. Sekonyong-konyong aku ingin punya tulisan-tulisan yang terabadikan dan mungkin bisa sedikit menyemarakkan jejakku yang daif di dunia maya. Itu saja. Jadi, lahirlah akun WordPress-ku ini.

Aku suka menulis, tetapi secara manasuka. Selain menggarap teks iklan atau konten—aku penulis wara yang kini sedang turun main—, aku menganggit puisi, cerita pendek, terjemahan, ulasan, dan coretan-coretan sepele perihal suatu perkara. Semua semenjana saja. Mereka menjadi perbendaharaan di laptopku, sebelum kuputuskan untuk membiarkan mereka terekam dalam jurnal digital. Sekadar meminta kawan membaca tampaknya bukan ide bagus buatku. Aku taksiap mendengar tanggapan meski penasaran. Kecut hati.

Menjadi narablog, bagiku saat itu, adalah menjadi “perancap karya”. Kau betul: aku takcukup percaya diri dengan tulisan-tulisanku—kecuali teks iklan atau konten yang kubuat sebagai penulis wara, ya, mereka kebanggaanku. Aku takpunya gigi untuk mengirim satu karya, begitu ia rampung, ke media cetak atau daring. Rombeng. Bagi redaksi pasti takberterima. Aku sepesimis itu, maka kupublikasikan saja tulisan-tulisanku di blog.

Aku pun takacuh blogku punya pembaca atau tidak. Boro-boro berpikir untuk mendatangkan duit. Memang aku takada niat menjadi “narablog yang sesungguhnya”. Kemasabodohan itu lama kuperam, maka kalau kubilang aku bangga menjadi narablog, kau boleh skeptis.

Sepanjang masa kuliah aku cukup getol menerbitkan kiriman blog. Saat itu aku sedang menjalani pendekatan dengan seorang pensyair muda, yang sesama mahasiswa. Kau cukup mengerti polah tingkah kawula muda yang gayang karena cinta. Jadi, boleh kaubilang mengeblog adalah usahaku mengambil perhatiannya—yang memang sudah ia agihkan untukku. Namun, tulisan-tulisanku takrucah. Selalu kuhiraukan substansi dari apa yang kukarang atau kualihbahasakan. Selama kami berpacaran pun aku konsisten menjadi narablog suka-suka. Jadi, terima kasih, Pacar, telah menyalakan semangat menulisku.

Begitu menggondol gelar sarjana, aku langsung bergiat di agensi periklanan. Berkat kehendak Tuhan, aku langsung diterima bekerja meski wisuda belum diselenggarakan. Menjadi penulis wara sangat menyita waktuku—kuharap kaupaham langgam bekerja dengan klien. Blogku tak tersentuh. Menulis menjadi mata pencarianku saja: untuk memadatkan rekening bankku dan memuaskan korporasi. Takada waktu untuk menulis untuk kepuasan. Ah, aku bersyukur saja karena membaca masih takluput.

Aku jadi lena. Namun, bukankah aku memang narablog sporadis? Barangkali itu hanya kilah; aku memang malas saja. Dibanding menyenggangkan waktu untuk menerjemahkan puisi atau cerita pendek, aku lebih suka bepergian. Namun, itu takburuk juga, bukan? Tidak, takada ulasan selepas melancong. Aku memilih rebah di bawah pendingin, membungkus badan dengan selimut, lalu lelap: bersiap menghadapi esok yang ripuh. Mual dengan kesibukan serta-merta membuatku ingin berpuisi? Mana mungkin. Aku lebih suka mengetwit satire dan gerutu dengan GIF.

Pensyair muda itu pun meminangku. Ia memberiku putra kecil yang manis, yang terlahir pada 15 Oktober tahun yang lalu. Aku belum kembali pontang-panting ikut lempar ide untuk memenangkan proyek, merevisi teks iklan atau konten dalam waktu yang sempit, atau sekadar mengalahkan kantuk pagi agar takterlambat hadir di kantor. Mengurus, menjaga, dan menyusui putraku adalah kesibukan baru. Suatu hari, kala ia sedang pulas, aku terpegun di sela waktu yang luang: apa kabar blogku?

Suamiku pernah mengusulkan aku memiliki blog dengan domain berbayar yang memuat karya-karya serta portofolioku. Bukan tanpa alasan ia menyarankan itu. Selagi aku berfokus pada putraku, dengan itu aku tetap bisa menambah koleksi tulisan untuk meningkatkan nilai tawarku kelak saat aku mulai berusaha lagi menggaet personalia. Tentu saja harus ada pundi-pundi yang tercipta pula darinya—sesuatu yang takluput dari benak seorang kepala pemasaran digital. Lagi pula, bukankah aku sebenarnya pekerja teks komersial?

Aku jumpa lagi dengan blogku pada awal Desember, setelah sempat buncah bagaimana supaya bisa masuk lagi ke akun ini. Sebelum tahun 2018 berakhir, kupublikasikan tiga kiriman yang seolah-olah “perdana”: tiga puisi yang dua di antaranya tersimpan lama di arsip.
Jadi, kubuat saran dari suamiku itu sebagai salah satu resolusi tahun 2019: membentuk citra jenama diriku lewat blog. Lebih-lebih pada era digital ini tampaknya lazim bagi kita untuk melihat mutu perseorangan lewat karya-karya yang ia pajangkan di dunia maya, entah apa mediumnya.

Dalam rangka memetik tujuan itu, akan kuikhtiarkan beberapa hal. Pemeriannya sebagai berikut.

Ya, tentu. Tanpa embel-embel WordPress pada alamat, blogku akan tampak lebih profesional. Lebih-lebih blog dengan domain berbayar lebih ramah SEO dan lebih berpeluang untuk memikat pengiklan. Nah, aku perlu memikirkan alamat blog yang enteng diingat, meski aku suka sekali alamat blogku yang sekarang—kuberikan aplaus kalau kaupaham.

Sekarang ini rupa tulisan yang kupunya adalah puisi, prosa, ulasan, dan catatan-catatan personal. Kelak, apalagi jika blogku sudah berganti alamat, akan kuperbanyak macamnya. Mungkin aku akan membuat tip dan trik. Ulasan pun bisa tentang musik, benda, pertunjukan, dan buku!—bukan cuma destinasi dan film.

Ini krusial agar aku takbisa leha-leha dan jauh dari tabiat takacuh narablog malas. Aku akan mengupayakan paling sedikit lima tulisan apik dan bernas terbit dalam satu bulan. Oh, mencuat satu gagasan: aku akan menyediakan celengan untuk menampung uang denda kalau-kalau dalam satu bulan tulisanku taksampai lima buah. Lima puluh ribu untuk setiap pelanggaran boleh, lah.

Salah satu hal yang aku abai akan keberadaannya: konten pendukung. Aku akan mulai memikirkan bagaimana foto atau infografik dipoles. Kalau perlu akan kusisipkan video … kalau perlu. Pokoknya, aku takmau sembarangan mengunggah. Harus ada format atau estetika yang khas. Bukan cuma tulisanku saja yang wajib punya gaya. Lagi pula, konten pendukung yang rancak akan semakin memanjakan pembaca blogku.

Empat hal itulah yang akan kuprioritaskan demi mengejawantahkan resolusi tahun 2019-ku, berkait menjadi narablog serius pada era digital yang menyibak banyak oportunitas ini. Kuharap kelak aku bisa berbangga.

Semoga takada kata “telat” untuk niat baik kita. Apa pun itu, hendaknya niat baik kita terus baik adanya dan mampu menelurkan kebaikan-kebaikan yang lain. Mudah-mudahan kita sanggup bertanggung jawab atas niat baik itu.

Baik, kusudahi dulu. Sudah semakin siang, putraku harus mandi! [*]

***

Tulisan ini meraih Juara Harapan Satu dalam Kompetisi Blog Nodi, yang diselenggarakan oleh narablog Adhi Nugroho (https://www.nodiharahap.com). #KompetisiBlogNodi #NarablogEraDigital