Buat Mbah Putri

Rasanya masih seperti Mbah sama sekali enggak pergi

ke manapun. Rasanya masih seperti

bulan-bulan lalu, tahun-tahun lalu, waktu Mbah

suka nyapa lewat mimpi—Dini cerita, kata Mama, Mbah kangen. Rasanya masih seperti

Dini masih punya seorang nenek—satu-satunya yang Dini kenal sejak

masih kecil.

Waktu Dini tiba di Solo tiga hari lalu, Dini

disambut Bude yang terisak. Dini dipeluk sambil Bude

terus nangis. Yang lain juga ada: Pakde, Mas dan Mbak yang

kebanyakan dari mereka sudah menikah, lalu tetangga.

Tapi Dini enggak lihat Mbah. Di manapun.

Mbah enggak ada di sana, duduk

di atas sofa kayu, atau kursi dipan yang ada di teras itu.

Dini enggak lihat Mbah pakai kebaya dan kain itu:

rambut putih, kulit keriput, dan bola mata jernih.

Dini ingat, dulu, waktu masih kecil dan

tiba di rumah Bude dengan Papa, Mama, Mbak Yuma, menggelosor

kelelahan karena perjalanan, Mbah langsung

mijiti Dini. Padahal Dini yang mestinya mijiti Mbah.

Kalau Mbah mau nginang, Dini senang, karena selalu pengin siapkan

daun sirih, kapur, dan tembakaunya buat Mbah: “biar

Dini aja yang buatin.”

Seringnya Dini ambil kapur terlalu banyak, tapi Mbah cuma senyum

memperhatikan, malah Papa yang bilang, “kebanyakan itu!”

Kalau sedang jalan-jalan di sekitar Losari pakai sepeda

Pakde, Dini pasti lewat rumah Bude: Mbah sedang duduk di depan, nginang.

Lalu, Dini akan turun sebentar, salim, lalu ijin keliling lagi.

Mbah,

akhirnya Dini ke Solo. Dini selalu mau ke sini: ketemu Mbah,

Pakde, Bude, Mas, Mbak, semua yang ramah yang

selalu belikan Dini makanan dan ajak Dini ikut ke pasar,

ikut ke sana sini lihat ini atau itu.

Akhirnya Dini sampai di kotamu, Mbah.

Tapi Dini ke sini karena kabar duka: Mbah sudah enggak ada.

Dini cuma lihat ada Mbah di sana sedang tidur, di samping Mbah Kakung, tapi

Mbah enggak akan bangun lagi.

Februari lalu, waktu Mbah sakit, Papa lebih dulu ke sini jenguk, Dini enggak ikut,

padahal ada yang memaksa ikut, bilang

mungkin ini terakhir kali Dini bisa lihat Mbah:

“Ikutlah.”

Mbah, Dini kangen. Kangen sekali. Dini nyesal

kenapa enggak ikut Papa jenguk, kenapa enggak berusaha meluk,

dengar suara Mbah yang lembut. Cucumu ini

bukan cucu yang baik…

Mbah, Dini minta maaf. Dini akan tambah kangen lagi, setiap hari.

Dini kangen lihat Mbah nginang, duduk dzikir, kadang

kasih nasihat pakai Bahasa Jawa yang

Dini enggak tahu artinya. Kangen lihat Mbah jalan pelan,

kangen diusap lembut dengan tangan yang dulu

pernah menimang Papa. Dini mau cium Mbah.

Kemarin setelah Subuh, sebelum tidur, Dini minta

Mbah hadir ke mimpi: Dini mau ketemu.

Kenapa Mbah enggak datang?